Kamis, 30 April 2015

Terapi Kapsul Bawang Dayak

Efek Farmakologi Bawang Dayak
  POM TR No: 143380931
Hasil riset di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), menunjukkan umbi bawang dayak mengandung senyawa naphtoquinonens dan turunannya seperti elecanacine, eleutherine, eleutherol, dan eleuthernone. Naphtoquinones dikenal ampuh sebagai antikanker, antioksidan, antimikroba, anticendawan, antivirus, dan antiparasitik. 
Umbi bawang dayak (eleutherine palmifollia) mengandung alkaloid, saponin, triterponoid, steroid, glikosida, tannin, fenolik dan flavonoid. Dari hasil penelitian, triterpenoid dan fenolik dalam umbi bawang dayak memberikan efek hipoglikemik yang dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Sedangkan flavonoid bersifat sebagai antioksidan yang dapat memelihara kesehatan tubuh dan kulit.

Bawang Dayak juga memiliki senyawa aktif naphtoquinon eleutherine yang berpotensi sebagai antikanker. Zat aktif tersebut dapat menghambat kerja enzim topoisomerase II yang berperan penting dalam fase replikase dan foliperasi sel kanker.
   Penyakit-penyakit yang dapat dibantu penyembuhannya menggunakan bawang dayak adalah sebagai berikut :
Amandel, Ambeien, Asam Urat, Bisul, Asma, Bronkhitis, TBC, Darah Rendah, Hipertensi / Darah Tinggi, Diabetes Melitus, Epilepsi,  Gangguan Pencernaan Lambung, Gangguan Seksual, Ginjal, Gondok, Hepatitis, Insomnia, Jantung, segala jenis Kanker : Kelenjar Getah Bening, Kanker Paru – Paru, Kanker Payudara, Kanker Rahim, Kanker Usus, Keputihan,  Kista, Kolesterol,  Maag, Migrain, Myom, Obat Muntah, Pelupa / Menurunnya Fungsi Ingatan, Peluruh Kemih, Pencahar, Prostat, Radang Usus, Rematik, Sakit Kuning, Sakit Perut, Sakit Pinggang, Stamina, Stroke, Vertigo, Vitalitas            

* Bawang Dayak menjadi foto sampul dalam Trubus edisi bulan Juli 2013

Info Produk Call/SMS :085  730 278  449
 Bawang Dayak Stop Suntik Insulin
Aliyah Muhdi menggantungkan kesehatan pada insulin untuk mengontrol gula darah yang membubung. Menjelang tidur, ia meraih alat suntik mirip pena dan menyuntikkan di lengan kiri. Dosis sekali suntik 14 unit dengan durasi 6-10 detik. Perempuan 44 tahun itu menyuntikkan insulin ke lengan secara bergantian setiap malam. Bila malam ini ia menyuntik di lengan kiri, maka esok malam di lengan kanan begitu seterusnya.Hingga akhirnya seorang rekan menyarankan untuk konsumsi bawang dayak. Sejak Juni 2012 Aliyah mengonsumsi masing-masing dua kapsul umbi Eleutherine americana pada pagi dan sore. Aktivitas menyuntik insulin ia tinggalkan.Tiga hari pascakonsumsi, Aliyah merasakan perubahan. “Badan terasa segar. Luka di tangan akibat tergores pisau saat memasak pun mengering,” katanya. Padahal, luka itu biasanya baru sembuh setelah sepekan. Pada orang normal, luka tergores mengering dalam 2-3 hari. Kini, tiga bulan setelah rutin konsumsi bawang berlian, kondisi Aliyah membaik dan bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya seperti mencuci dan mengepel lantai. Meski kondisinya membaik, Aliyah tetap mengonsumsi bawang berlian, tapi dosis berkurang hanya 1 kapsul pada pagi dan sore.
  
 Reaksi Kerja Herbal Dalam Tubuh
Orang yang mengonsumsi herbal untuk pertama kalinya, mungkin akan dikejutkan oleh efek dan reaksi tidak menyenangkan yang dihasilkannya. Akibatnya, seringkali beberapa orang menyimpulkan bahwa mereka mengalami keracunan. Mari kita lihat reaksi seperti apa yang dimaksudkan dalam penjelasan berikut. 
Reaksi Obat Herbal 
Reaksi yang dimaksudkan di atas, biasanya akan muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap orang. Terkadang, pada awal terapi herbal, perut Anda akan terasa seperti dikocok selama satu atau dua hari, pusing, mual, dan sakit perut mungkin menyertainya. Jika Anda mengalaminya, jangan khawatir! Secara umum dikatakan bahwa reaksi ini adalah efek penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa memanfaatkan pengobatan yang diberikan oleh herbal tersebut dan biasanya akan hilang setelah beberapa hari. 
Selain efek penyesuaian tersebut, akan ada efek detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan. Reaksi yang mungkin muncul adalah batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, banyak mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar dan sekali lagi efek tersebut akan berbeda-beda pada tiap orang. 
Jika Anda merasakan reaksi atau efek yang tidak menyenangkan tersebut, ketika/setelah menggunakan obat herbal, jangan menyerah dan menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan menghentikan proses pengobatan dan pemulihan. Jika Anda tidak yakin, konsultasikan dengan ahli herbal Anda dan ikuti petunjuk yang diberikan. Biasanya, ahli herbal akan menganjurkan Anda mengurangi dosis untuk meringankan efek tersebut dan memberikan waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan bekerjanya obat herbal. 
Bagaimana Obat Herbal Bekerja? 
Seseorang yang memutuskan untuk menggunakan obat herbal sebagai pengobatan harus sabar menunggu hasilnya. Mengapa? Salah satu prinsip kerja herbal adalah reaksi obat herbal yang lambat. Tidak seperti obat kimia yang bisa langsung bereaksi, reaksi obat herbal dan manfaatnya umumnya baru dapat dirasakan setelah beberapa minggu atau beberapa bulan penggunaan. Hal itu disebabkan, senyawa-senyawa berkhasiat di dalam obat herbal membutuhkan waktu untuk menyatu dalam metabolisme tubuh.